M@sjeed

Renungan

Renungan
ketika lagi menyendiri dan ingin merenungi hidup ini..

Tuesday, July 24, 2007

Alquran adalah mukjizat abadi Nabi Besar Muhammad saw. Adalah sangat istimewa, mukjizat abadi itu justru merupakan sebuah Kitab, dan dengannya Allah menutup kenabian.


AL-QURAN: MUKJIZAT ABADI



I'jaz Al-Quran yang pertama adalah keluasan pengetahuan yang dikandungnya. Sebagaimana Anda ketahui, AI-Quran meliputi berbagai disiplin ilmu, aturan moral, hukum, aqidah dan lain­lain. Tetapi lebih dari itu, dan ini yang membedakan Al-Quran dari kitab-kitab yang lain, pengetahuan Al-Quran tidak pemah "keting­galan zaman". Al-Quran selalu modern. Kata Thabathaba'i, "Al­Quran menegaskan bahwa semua pengetahuan yang dikandung­nya akan tetap berlaku sampai hari akhir; akan terus membimbing umat manusia dan akan selalu relevan dengan kebutuhan manusia dan lingkungannya.... Inilah kitab yang tidak dikenai pembatalan, yang tidak memerlukan perubahan dan penyempur­naan." (AI-Mizan 1:62).

I'jaz AI-Quran yang kedua adalah kepribadian Nabi Muhammad saw. yang menyampaikan AI-Quran ini. "Nabi yang ummi telah membawa Al-Quran yang mu’jiz dalam hal lafal dan maknanya. la tidak pernah belajar dari guru mana pun. Ia tidak pernah ber­guru kepada siapa pun. Ini dinyatakan Allah SWT,

Katakan: “ Jika Allah menghendaki, aku tidak akan membacakannya, kepadamu dan la pun tidak akan mengajarkannya kepadamu. Bukankah aku telah hidup sepanjang usiaku di tengah-tengah kamu. Tidakkah kamu merenungkannya." (Yunus 16).

Nabi saw. telah hidup di tengah-tengah mereka seperti mereka. Selama itu, ia tidak dikenal dalam hal kepandaian dan pengetahuannya. la tidak pernah me­nyampaikan kuliah. Ia tidak menggubah puisi atau prosa. Sebelum ia berusia 40 tahun, dua per tiga dari sejarah hidupnya, ia tidak memiliki keistimewaan dalam sastra dan pengetahuan. Tiba-tiba ia datang membawa apa yang ia bawa. Di hadapan (wahyu Allah) yang disampaikannya, raksasa-raksasa sastra menjadi kecil, lidah­lidah orang-orang fasih menjadi kelu. Ia menyebarkan wahyu itu ke seluruh dunia, tetapi tidak seorang pun yang mampu menda­tangkan yang seumpama itu sepanjang sejarah" (Al-Mizan 1:63).

I'jaz Al-Quran ketiga adalah.kandungan berita gaib di dalam­nya. Thabathaba'i menyebutkan paling tidak empat berita gaib yang dikemukakan AI-Quran: berita tentang nabi-nabi dan umat­umat terdahulu; nubuwat (ramalan) tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang; kenyataan-kenyataan ilmiah yang baru diketahui kebenarannya ribuan tahun setelah Al-Quran itu turun; dan kejadian-kejadian besar yang akan menimpa kaum muslim sepeninggal Rasulullah saw.

I'jaz Al-Quran keempat ialah bersihnya AI-Quran dari perten­tangan di dalamnya. AI-Quran sangat konsisten. Tidak ada diskre­pansi. "Lihatlah Al-Quran. Muhammad saw, menyampaikannya sepenggal demi sepenggal, surat demi surat, atau beberapa ayat dalam satu waktu. Ini berlangsung selama 23 tahun, di berbagai tempat, dalam situasi dan kondisi yang berbeda. Di Makkah dan di Madinah. Siang dan malam. Dalam perjalanan atau ketika ting­gal di rumah. Di tengah pertempuran atau dalam suasana damai. Selama hari-hari yang sulit dan hari-hari yang menyenangkan. Ketika orang-orang Islam menang dan ketika mereka kalah. Dalam keadaan aman atau bahaya. Al-Quran mengandung segala persoalan, menyingkapkan pengetahuan ruhaniah, mengajarkan akhlak yang mulia, menetapkan hukum dalam segala aspek kehidupan. Dengan mengingat segala faktor ini, tidak satu pun terjadi diskrepansi di dalamnya dalam hal susunan dan maknanya. Dalam AI­Quran banyak ayat yang berulang dan menyerupai satu sama lain. Tidak sedikit pun terdapat pertentangan dalam realitas yang di­ungkapkannya, tidak juga dalam hukum yang ditetapkannya. Setiap ayat menafsirkan ayat yang lain. Sebagian menerangkan bagian yang lain. Setiap kalimat membenarkan kalimat yang lain. Seperti kata Ali bin Abi Thalib k.w., "Sebagian AI-Quran berbicara tentang bagian yang lain. Sebagian menjadi saksi bagi bagian yang lain." (Al-Mizan 1:66).

Terakhir, AI-Quran mengatasi kitab mana pun dalam keindahan maknanya (balaghah). "Bahkan setelah empat belas abad, tidak seorang pun yang mampu membuat yang seumpama Al-Quran.

Mereka yang pernah mencobanya telah dipermalukan dan dicemoohkan. Sejarah telah mencatat beberapa upaya perlawanan ini. Lihatlah Musailamah mencoba menandingi surat Al-Fil:

Gajah. Apakah gajah. Tahukah kamu apakah gajah itu. Yang punya ekor buruk dan taring panjang.

Dalam "ayat" yang lain, yang ia bacakan di hadapan Al-Sajah (pe­rempuan yang juga mengaku sebagai nabi):

Kami memasukkan kepada kamu (perempuan perempuan) se­keras-kerasnya. Dan kami mengeluarkannya sekeras-kerasnya.

Perhatikan kata-kata kotor yang dipergunakannya. Pernah belakangan ini orang Kristen membuat surat untuk menandingi surat Al-Fatihah (Al-Mizan 1:68):

Saya tidak menerjemahkan surat Al-Fatihah tandingan itu. Para pembaca yang mengerti ilmu Balaghah dan ilmu Bayan akan segera menemukan kelemahannya. Walaupun penulis Kristen ini ber­usaha untuk menangkap makna dalam Al-Fatihah, ia kehilangan banyak makna di dalamnya. Pada "ayat" yang pertama -- Al-Hamdu lirrahman -- tidak kita temukan uluhiyah dan rububiyah Allah (yang dinyatakan dalam Allah Rabb) dan kerendahan diri manusia menghadapi Allah (yang dinyatakan dalam Alhamdu lillahi Rabbil alamin).

Walhasil, kata-kata AI-Quran telah dipilih begitu rupa sehing­ga tidak bisa digantikan dengan kata-kata lain, walaupun semakna. Kata-kata itu sudah tepat diletakkan pada kalimat tertentu, pada surat tertentu, karenanya penggunaan kata-kata lain akan menghancurkan makna dan keindahan Al-Quran. Cobalah Anda baca Surat Al-Fatihah tandingan itu. Bandingkan dengan Surat Al­Fatihah yang asli. Anda akan merasakan perbedaan bunyi yang jauh berbeda. Lagi pula, seperti diungkapkan oleh para peneliti AI-Quran belakangan ini, dalam keseluruhan Al-Quran, frekuensi kata-kata itu ternyata menunjukkan hubungan dengan makna kata-kata itu. Inilah yang kemudian disebut sebagai I’jaz ‘adadi (i'jaz dari segi bilangan).

I'jaz Adadi: Adakah hubungannya dengan makna?

Pengarang buku ini menguraikan sejarah perhitungan ber­kenaan dengan Al-Quran sejak masa salaf. Tetapi ia mengakui sangat dipengaruhi oleh hasil penemuan Ir. Abdur Razaq Nawfal dari Mesir. Pada tahun 1975 ia menulis Al-I’jaz al-'Adadi li al­Quran al-Karim. Ia menemukan bahwa ada pasangan kata-kata yang frekuensi penyebutannya sama dalam AI-Quran. Di bawah ini saya kutipkan sebagian:

Pasangan Kata

Jumlah

al-dunya

al-akhirah

115

al-shabr

al-syiddah

102

al-mahabbah

al-tha'ah

83

al-huda

al-rahmah

79

lal-salam

al-thayyibah

50

al-‘aql

al-nur

49

al-sulthan

al-nifaq

37

al-raghbah al-rahbah 8
Muhammad al-siraj 4
al-malakut ruh al-qudus 4

Dengan memperhatikan daftar itu, segera Anda menemukan bahwa jumlah yang sama tampaknya menyampaikan hubungan mak­na. Bukankah kita dapat menafsirkan bahwa kehidupan dunia ini harus selalu kita hubungkan dengan kehidupan akhirat, bahwa diperlukan kesabaran dalam menghadapi kesulitan, bahwa kecintaan kepada Allah itu ditunjukkan dengan ketaatan kepada-Nya, bahwa Allah memberikan petunjuk sebagai ungkapan kasih-Nya, bahwa ada hubungan antara kedamaian dengan kebaikan, bahwa Allah menjadikan akal kita sebagai cahaya, bahwa para penguasa itu bersifat munafiq dan seterusnya.

Terilhami oleh Abdur Razak Nawfal, Abu Zahra' Al-Najdiy mulai melakukan penghitungan kata-kata dalam Al-Quran, dengarkan kisahnya yang mengharukan:

Dalam AI-Quran juga terdapat banyak huruf tawaim dan tanasuq seperti yang dijelaskan oleh Abdul Razaq Naufat dalam bukunya Al-I’jaz AI-‘Adadi. Saya mempelajari buku beliau, juga buku Doktor Rasyad Khalifah. Saya mulai berpikir bahwa selama persoalan tersebut dalam bentuk seperti itu, mengapa tidak mungkin ada bentuk lain yang sama-sama memiliki karakteristik demikian? Maka saya mulai meneliti mutawaim, hubungan di antara huruf-huruf tersebut, atau hubungan antara kata-kata tersebut dengan jumlah. Kemudian saya mencarinya dalam Al-Quran. Setelah saya berusaha keras dengan sering berjaga pada malam hari, maka Allah mem­bukakan rahmat-Nya kepada saya. Rasa senang dan bahagia benar-benar memenuhi jiwa saya setiap kali menemukan hubungan antara jumlah dan kalimat yang disebutkannya dalam jumlah tersebut. Setiap kali saya menemukan sesuatu yang baru sungguh bergetarlah badan saya; hati saya begitu terpana atas mukjizat yang agung ini. Tentunya saya terus ber­harap agar saudara-saudara yang meneliti persoalan ini terus melanjutkan kiprahnya. Semoga Allah mencurahkan cahaya­cahaya baru kepada manusia dalam hal i’jaz Al-Quran Al­Karim. Sungguh Allah Maha Pemberi karunia dan Mahamulia.

Sekarang terserah kepada Anda untuk menafsirkan penemu­annya. Sudah saya tunjukkan kepada Anda bahwa jumlah penye­butan satu kata dalam AI-Quran memberikan petunjuk (isyarat) kepada makna tertentu. Dr. Abu Zahra' Al-Najdiy menambah bukti-buktinya dan Anda diminta untuk melanjutkan penelitian dia. Banyak penemuannya yang menakjubkan. Anda pun boleh jadi memperoleh penemuan-penemuan baru dalam penelitian Anda. Namun perlu Anda catat: yang Anda lakukan adalah upaya untuk membuktikan AI-Quran sebagai mukjizat abadi dan bukan penafsiran Al-Quran (walaupun ada hubungan antara makna de­ngan bilangan).

Saya berjumpa dengan pengarang buku ini dalam sebuah kon­ferensi Islam internasional. Dr. Abu Zahra' menegur saya ketika kami minum kopi di lobbi hotel. Dari perkenalan itu saya tahu ia adalah dosen filsafat di sebuah universitas di Syria. Tetapi waktunya kini lebih banyak dipergunakan untuk meneliti Al-Quran. Apa yang Anda baca sekarang adalah jilid pertama dari buku yang tengah ditulisnya. Ia berjanji untuk mengirimkan buku keduanya, segera setelah saya menyerahkan terjemahan ini kepadanya. Bacalah buku ini. Bersama saya, marilah kita tunggu "kejutan-kejutan" lainnya. Insya Allah, Al-Quran akan tetap kokoh sebagai mukjizat yang dahsyat. Sampai akhir zaman.

BAB 1
I'JAZ AL-QURAN

Menurut bahasa kata "mu’jizah" berasal dari kata "'ajz" (lemah), kebalikan dari kata "qudrah" (kuasa). Pada dasarnya Mu’jiz itu adalah Allah SWT., yang menyebabkan selain-Nya lemah. Pemberi kekuasaan kepada selain-Nya juga adalah Zat Allah SWT., karena Ia sebagai Penguasa mereka. Sebagai bentuk mubalaghah (penegasan) kebenaran berita, mengenai betapa lemahnya orang-orang yang didatangi Rasul untuk menentang mu’jiz tersebut, maka huruf "ta" marbuthah ditambahkan kepada kata "mu’'jiz" sehingga menjadi "mu’jizah ". Bentuk mubalaghah ini juga terjadi, misalnya pada kata, "'allamah", "nassabah", dan "rawiyah".

Menurut para Mutakallimln (teolog), mukjizat ialah muncul­nya sesuatu hal yang berbeda dengan adat kebiasaan yang terjadi di dunia (dar al-taklif) untuk menunjukkan kebenaran kenabian (nubuwwah) para Nabi.

Al-Thusi mendefinisikan mukjizat dengan terjadinya sesuatu yang tidak biasa terjadi, atau terjadinya sesuatu yang menggugur­kan sesuatu yang biasa terjadi yang disertai dengan perombakan terhadap adat kehiasaan, dan hal itu sesuai dengan tuntutan,

AI-Quran ialah mukjizat abadi Nabi Muhammad saw., yang dengannya seluruh manusia dan jin ditantang untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran tersebut, sebuah atau sepuluh surat yang sama dengan surat yang ada di dalamnya. Para ahli balaghah dan para ahli bahasa Arab di antara mereka ternyata tidak mampu membuat sebuah surat pun yang serupa dengan surat yang ada di dalam Al-Quran sehingga akhirnya mereka menggunakan kekuatan dengan berupaya memerangi Rasulullah, menawarkan jabatan dan harta kepada beliau, bukan membuat sehuah surat yang serupa dengan AI-Quran. Allah SWT. di dalam Kitab-Nya menjelaskan bahwa AI-Quran merupakan mukjizat:

Dan orang-orang kafir Makkah mengatakan: “Mengapa kepadanya tidak diturunkan mukjizat-mukjizat dari Tuhan­nya?" Katakanlah: "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat ter­sebut terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya (Muhammad) hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata."Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) dan ia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam Al-Quran itu terdapat rahmat yang besar dan peringatan bagi orang-orang yang ber­iman. (Al-Ankabut: 50-51)

Dengan penjelasan ini, Allah SWT. menegaskan bahwa Al-Quran merupakan ayat yang terang dan mukjizat yang cukup bagi manusia.

Jumhur kaum Muslimin berpendapat bahwa Al-Quran sendiri merupakan mukjizat (mu ’jiz bi dzatih). Maksudnya, bahwa Al­Quran dengan seluruh yang ada di dalamnya, termasuk struktur kalimat; balaghah, bayan (penjelasan), perundang-undangan (tasyri'), berita-berita gaib dan seluruh persoalan lain yang merupa­kan mukjizat, telah menyebabkan seluruh manusia tidak mampu membuat yang serupa dengannya.

Abu Ishaq Ibrahim Al-Nidzam, seorang Mu'tazilah, dan Al­-Syarif Al-Murtadha, seorang Syi'ah Ja'fari berpendapat bahwa Al-Quran itu mu’jiz bi al-sharfah. Yang dimaksud dengan sharfah adalah bahwa Allah SWT. memalingkan hamba-hamba-Nya dengan menarik kehendak mereka, dan dengan mengelukan lidah-lidah mereka untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran.

Sebenarnya, Al-Quran merupakan mukjizat (mu’jiz bi dzatih), adalah disebabkan ketinggian balaghah, struktur bahasa, bayan, dan perundang-undangan (tasyri')-nya yang adil dan relevan bagi manusia, potensi-potensinya, tujuan penciptaannya yang harmonis dengan hukum alam yang umum, dan juga berita-berita gaibnya yang manusia tidak akan mampu memberitakan hal demikian. Al-Baqilani mengatakan: "Seandainya Al-Quran bukan merupakan mukjizat berdasarkan yang telah kami sifatkan dari segi struktur bahasanya yang mumtani' (tidak mungkin tertandingi), maka kendatipun Al-Quran disusun dengan struktur bahasa yang sangat tinggi dan dengan kefasihan yang sangat tinggi pula, tentu kemukjizatannya akan lebih hebat lagi seandainya mereka dipalingkan untuk membuat yang serupa dengannya, seandainya mereka dicegah untuk menentangnya, serta seandainya anggapan-anggapan mereka dibelokkan dari padanya. Tentu pula hal itu menunjukkan tidak perlunya AI-Quran diturunkan dengan struktur bahasa yang indah, fasih dan menakjubkan. Sebab, seandainya mereka dipalingkan dari anggapan-anggapannya, niscaya orang-orang jahiliah sebelum mereka tidak perlu dipalingkan dari kefasihan, balaghah, keindahan struktur bahasa dan ke­ajaiban susunannya, karena mereka tidak ditantang oleh Al-Quran untuk melakukan yang serupa, di samping hujjah-nya pun tidak selayaknya diungkapkan mereka. Oleh karena itu, tidak pernah dijumpai pembicaraan seperti itu sebelumnya. Hal itu merupakan bukti bahwa apa yang diklaim oleh seseorang yang meyakini adanya sharfah, merupakan suatu kebatilan yang nyata, yang akan mem­batalkan pendapat mereka mengenai adanya sharfah tersebut. Seandainya penentangan itu mungkin, maka kalam bukan merupakan mukjizat. Mukjizatnya justru pada pelarangan, sehingga kalam itu sendiri tidak lebih istimewa dari yang lain. Maka tidak mengherankan apabila dikatakan: ‘Sesungguhnya semua orang akan mampu membuat yang serupa dengan Al-Quran, hanya saja mereka terlambat karena mereka tidak mengetahui bentuk susunan (seperti AI-Quran - penj.), seandainya mereka telah mengetahuinya, pasti mereka akan mampu melakukannya'."

Al-Khithabi menolak pendapat bahwa Al-Quran merupakan mukjizat bi al-sharfah. Beliau mengatakan: "Al-sharfah, merupakan hal yang tidak begitu berbeda dengan i’jaz. Hanya saja, petunjuk ayat membuktikan sebaliknya, yaitu firman Allah SWT.:

Katakanlah: "Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekali­pun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. " (Al-Isra: 88)

Dalam hal demikian, ia menunjuk kepada persoalan yang caranya bersifat takalluf (dibuat-buat) dan diupayakan, dengan cara yang matang dan dilakukan bersama-sama. Dan yang dimaksud dengan al-sharfah seperti yang telah mereka sifatkan tidaklah sejalan dengan sifat ini sehingga hal ini menunjukkan bahwa yang di­maksud adalah sifat yang lain. Wallahu a'lam."

Muhammad bin Amru Al-Razi, dalam tafsimya Al-Kabir, menegaskan bahwa kedua pendapat tersebut - pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran sendiri merupakan mukjizat, dan pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran mu’jiz bi alsharfah - satu sama lain menjadi pendahulu di dalam memberikan bukti.

Beliau mengatakan: "Al-Quran, baik ia sendiri merupakan mukjizat atau bukan, adalah mukjizat. Apabila ia merupakan mukjizat maka ia sudah sampai kepada yang dimaksud. Apabila ia bukan merupakan mukjizat, bahkan banyak orang yang mampu untuk menentangnya, dan untuk melakukan hal demikian tidak dipalingkan dan dilarang, maka atas dasar ini tindakan menandingi­nya merupakan sesuatu keharusan dan kelaziman. Dengan ke­tidakmampuan menandingi tersebut, dengan disertai kemungkin­an-kemungkinan, jelas merupakan pembatal terhadap kebiasaan sehingga ia merupakan mukjizat."

Sedangkan penulis .Al-Mizan bi Tafsir Al-Quran berpendapat bahwa Al-Quran sendiri merupakan mukjizat (mu’jiz bi dzatih). Beliau mengatakan: "Firman Allah SWT.: 'Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau sekiranya Al­Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka akan mendapat­kan pertentangan yang banyak di dalamnya,' jelas merupakan bukti bahwa AI-Quran tidak mungkin dapat ditandingi oleh manu­sia dengan mendatangkan sesuatu yang serupa dengannya. Wujud Al-Quran itu sendiri yang pada lafaz dan maknanya tidak terjadi pertentangan, itu saja, tidak mungkin dapat ditandingi oleh makhluk untuk membuat kalam yang tidak dikenai pertentangan di dalamnya. Bukan karena Allah memalingkan mereka sehingga mereka tidak bisa menandinginya dengan menunjukkan per­tentangan di dalamnya, dan pendapat mereka yang mengatakan bahwa kemukjizatan AI-Quran itu bi al-sharfah (pemalingan) merupakan pendapat yang tidak bisa dijadikan sandaran."

Al-Rummani Ali bin Isa, seorang Mu'tazilah, di dalam buku­nya Al-Nukat fi /’jaz Al-Quran, juga berpendapat mengenai adanya i’jaz balaghi, juga berpendapat bahwa kemukjizatannya bi al­ sharfah. Pendapat ini diikuti oleh Al-Nadhdham AI-Mu'tazili, Hisyam Al-Quthi, dan Ibad bin Sulaiman. AI-Qadhi Abdut Jabbar Al-Mu'tazili berpendapat bahwa i jaz itu pada kefasihan Al-Quran. Adapun al-sharfah (pemalingan) merupakan hujjah yang lazim bagi yang berpendapat demikian.

Yang dimaksud dengan al-sharfah oleh Mu'tazilah ialah baitwa Allah SWT. memalingkan kehendak mereka untuk me­nandingi AI-Quran.

Meieka berpendapat: "Sekiranya Allah SWT. mengangkat Nabi pada masa kenabian (nubuwwah), dan mukjizatnya terjadi ketika menggerakkan tangannya, melangkahkan kakinya, atau sewaktu duduk di antara kaumnya, kemudian dikatakan kepadanya: 'Apa bukti kebenaranmu?' Beliau menjawab: 'Bukti kebenar­anku ialah bisa menggerakkan tanganku atau menjulurkan kakiku, dan kalian tidak mungkin dapat melakukan seperti yang telah kulakukan.' Andaikan seluruh kaum badannya dalam keadaan sehat, sedikit pun anggota badan mereka tidak cacat. Selanjutnya beliau menggerakkan tangannya atau menjulurkan kakinya, kemudian mereka mulai mau melakukan seperti yang beliau laku­kan, akan tetapi mereka tidak bisa melakukannya. Semua itu merupakan bukti atas kebenarannya."

Sebenarnya argumentasi mereka yang berpendapat bahwa Al-Quran merupakan rnukjizat bi al-sharfah (pemalingan) seperti itu, pada dasarnya adalah mukjizat dengan halangan yang bersifat eksternal, bukan dari AI-Quran itu sendiri. Halangan eksternal ini bukanlah pendahulu bagi halangan sejati (al-imtina' al-dzati). Bagi mereka yang berpendapat demikian, suatu kalam yang paling tinggi dan yang sebaliknya - dalam balaghah - adalah sama, selama halangan tersebut bersifat eksternal. Selanjutnya, sekiranya yang memalingkan dari luar Al-Quran sendiri, maka orang Arab, seperti Musailamah dan yang lainnya, yang berusaha menandingi Al-Quran, akan gagal dan binasa.

Perlu dijelaskan bahwa antara mukjizat dan mumtani' ada perbedaan. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, mukjizat adalah terjadinya sesuatu yang tidak biasa terjadi atau terjadinya sesuatu yang menggugurkan sesuatu yang biasa terjadi yang disertai dengan perombakan terhadap adat kebiasaan, dan hal itu sesuai dengan tuntutan. Adapun mumtani' ialah sesuatu yang pada hakikatnya ia sendiri bersifat mustahil terjadi, yaitu bahwa ketika akal menggambarkan suatu subtansi mumtani', pada dasarnya, subtansi tersebut mustahil terwujud. Contoh, menggambarkan wujud lingkaran yang diameternya lebih besar dari kelilingnya. Pada dasarnya, ketika akal menggambarkan subtansi tersebut, ia menghukumi bahwa hal itu tidak akan terwujud, seperti mustahil­nya bahwa bagian itu lebih besar dari keseluruhan, dan mustahil­nya dua hal yang kontradiksi bisa bersatu. Contoh-contoh subtansi di atas, pada dasarnya ia sendiri bersifat mumtani' (mustahil ter­wujud). Actapun mukjizat, tidak bersifat mumtani', seperti membekunya air laut sebagai benteng kepada Musa a.s., atau tidak membakarnya api kepada Ibrahim a.s. yang menurut kebiasaan api itu membakar. Semua ini termasuk hukum-hukum alam (al­sunan al-kauniyyah) yang telah diciptakan Allah SWT., hanya saja hukum-hukum alam tersebut tidak mungkin bisa diubah selain oleh Penciptanya, yaitu Allah SWT, karena seluruh manusia tidak akan mampu mengubahnya.


Sungguh kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnatullah (hukum alam). (AI-Ahzab: 62)

Apabila seorang Nabi diminta untuk mendatangkan suatu bukti, maka dengan izin Allah SWT. dia akan mampu mengubah sunnatullah tersebut, karena pada dasarnya sunnatullah itu bisa berubah, hanya saja bagi manusia ia bersifat mumtani' (mustahil berubah). Dengan kata lain, mukjizat itu bersifat mumtani' bagi manusia, akan tetapi dengan izin Allah SWT. bersifat mungkin bagi Nabi. Sedangkan mumtani' sendiri pada hakikatnya bersifat mumtani', dan kekuasaan Allah tidak berkaitan dengan al-mun­tani'at (hal-hal yang bersifat mumtani'). Al-Quran sendiri merupa­kan mukjizat. Artinya, bahwa setiap makhluk mustahil akan mampu membuat vang serupa dengannya. Sedangkan hubungan­nya dengan Allah SWT tentu Ia akan mampu membuat yang serupa dengannya, karena Ia sendiri Mahakuasa atas segala sesuatu.


Macam-macam I'jaz AI-Quran

I’jaz AI-Quran terdiri dari beberapa macam. Sebagian di antaranya telah kami jelaskan. Dengan kehendak Allah, pada masa akan datang mudah-mudahan akan terus terungkap i'jaz-i'jaz yang lain, karena keajaiban-keajaiban Al-Quran itu tidak akan pernah habis. Di antara macam i’jaz Al-Quran yang telah kami jelaskan ialah i’jaz balaghi, i’jaz mengenai berita gaib, ijaz tasyri'i (per­undang-undangan) dan i’jaz 'ilmi. I’jaz dengan berbagai macamnya, seperti i’jaz al-thibbi (kedokteran), i’jaz al-falaki (astronomi), i’jaz al-jughrafi (geografi), i’jaz al-thabi'i (fisika), i’jaz adadi (jumlah), i’jaz i'lami (informasi), dan i'jaz-i’jaz lainnya. Macam­macam i'jaz tersebut telah kami bahas pada buku Al-I’jaz Al­-Quraniy fi Wujuhih Al-Muktasyifah (Macam-macam I'jaz Al-Quran yang Terungkap). Adapun buku yang ada ditangan anda adalah hanya merupakan salah satu bagian dari buku tersebut. Atas dasar usulan sebagian pembaca, karena pentingnya persoalan ini, maka pembahasan mengenainya saya pisahkan dalam buku yang ada pada tangan pembaca ini dengan beberapa tambahan agar bisa lebih menambah manfaatnya.

Salah satu i’jaz Al-Quran adalah perhatiannya yang besar terhadap setiap hubungan yang terjadi di dalamnya. Tidak ada satu Kitab Sammawi pun, lebih-lebih Kitab Ardhi, yang memberikan perhatian begitu rupa seperti yang dilakukan oleh AI-Quran. Sejak Al-Quran mulai diturunkan, ayat-ayat dan surat-suratnya sudah dihafalkan oleh banyak kaum Muslimin. Begitu juga tafsir-tafsir­nya, penafsiran-penafsiran Rasulullah mengenainya, dan pendapat­pendapat para ulama tafsir sehingga dengan berlalunya waktu telah lahir thabaqat al-mufassirin (tingkatan-tingkatan para mufassir), dan pada setiap tingkatan tersebut telah banyak buku tafsir yang ditulis. Banyaknya para mufassir dan besarnya perhatian mereka tidak lain adalah karena besarnya peran Al-Quran. Al-Quran tidak hanya mereka tafsirkan, akan tetapi juga dari AI-Quran telah muncul berbagai ilmu yang mereka tulis. Di antaranya studi tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih, asbab al-nuzul, pem­bagian ayat kepada makiah dan madaniah, ilmu tajwid, ilmu qiraat, i’jaz AI-Quran, i'rab Al-Quran, ilmu rasm AI-Quran dan buku-buku yang ditulis mengenai penghitungan ayat-ayat Al­Quran, pembagiannya kepada juz, hizb, anshaf al-ahzab dan rub' di samping karya-karya mengenai nasikh-mansukh, linguistik Al­Quran, balaghah, nudzhum (struktur bahasa Al-Quran), bayan (kejelasan) dan ma'ani (makna-makna) kata dan kosa katanya, bahasa kabilah, keutamaan surat-suratnya, pahala membaca Al­Quran, etika tilawah, sampai-sampai perhatian terhadap Al-Quran pun telah mendorong perhatian terhadap penghitungan jumlah kata-kata, lafaz-lafaz, huruf-huruf dan hubungannya antara kata, huruf, ayat dan surat di dalamnya.

Dengan kebetulan, di perpustakaan 'Arif Hikmat, di Madinah AI-Munawarah, saya mendapatkan sebuah makhtuthat (buku yang masih ditulis tangan) yang ditulis kira-kira pada abad ketiga hijriah, yaitu pada masa kekuasaan Abdul Malik bin Marwan. Di dalam makhthuthat tersebut terdapat kutipan dari banyak orang mengenai bagaimana cara mereka menghitung huruf-huruf AI­Quran dengan menggunakan biji gandum. Penghitungan-penghitungan tersebut telah mereka susun dalam sebuah risalah kecil yang kebetulan saya temukan. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai jumlah ayat, huruf dan jumlah masing-masing huruf dalam Al-Quran dan seterusnya. Di bawah ini adalah salah satu kutipan dari makhthuthat tersebut:

Diriwayatkan oleh sebagian mereka bahwasanya ia ditanya: "Bagaimana kalian menghitung huruf-huruf AI-Quran?" Dia menjawab: "Dengan gandum." Diriwayatkan juga bahwa mereka menghitungnya selama empat bulan. Menurut penduduk Madinah pertengahan Al-Quran itu pada surat AI-Kahfi, ketika Allah berfirman: maa lam tastati', alaihi shabra (apa yang telah membuat engkau tidak sabar itu) (Al-Kahfi: 78). Al-Hajjaj bertanya kepada mereka: "Beritahu aku huruf AI-Quran mana yang merupakan tengah-tengah Al-Quran?" Lantas mereka menghitung dan sepakat bahwa huruf tengah-tengahnya pada surat Al-Kahfi, yaitu pada firman Allah: wa alyatalaththaf. Huruf "ta" pada setengah pertama Al-Quran dan huruf "lam" pada setengah terakhir AI-Quran. Wallahu a'lam bi al-shawab .. . Inilah hitungan surat, kata dan huruf Al-Quran.

Sudahkah pembaca yang budiman memberikan perhatian sejauh itu? Coba renungkan, adakah sebuah Kitab yang mendapat­kan perhatian sedemikian atau minimal mendekatinya? Inilah Al­Quran, yang pada masa modern ini, telah bisa dihitung dengan bantuan alat hitung elektronik sehingga telah melahirkan banyak karya dalam hal i’jaz 'Adadi Al-Quran. Perhatian yang demikian besar terhadap kalamullah ini menjadi bukti i’jaz dalam menjaga Kitab yang mulia ini, yang Allah telah menjanjikan untuk menjaganya.

Sesungguhnya telah Kami turunkan AI-Quran dan sesungguhnya Kami akan menjaganya. (Al-Hijr: 9)

Allah berfirman:

Maka Aku bersumpah dengan masa turunnya bagaan-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar, jika kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang mulsa terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seru sekalian alam. (AI-Waqiah: 75-80)

Allah berfirman:

Bahkan yang didustakan mereka ini ialah Al-Quran yang mulia, yang tersimpan di Lauh Al-Mahfudzh. (AI-Buruj: 21-22)

Saya ingin tegaskan kepada pembaca bahwa AI-Quran dijaga bukan karena ia merupakan Kitab Allah. Karena apabila itu yang menjadi sebab, maka seluruh kitab samawi pun seharusnya dijaga pula dari tahrif (distorsi) dan tabdiI (pengubahan). Sebab keterjagaan Al-Quran adalah kembali kepada persoalan-persoalan berikut:

Pertama, Allah SWT berjanji dan menjamin akan menjaganya.

Kedua, karena risalah Islam merupakan risalah terakhir sehingga perundang-undangannya harus abaditidak boleh diubah, terdistorsi dan diganti. Karena sekiranya pengubahan, pendistorsian dan penggantian itu boleh dilakukan, maka manusia memerlukan sebuah kitab dan seorang rasul yang baru, padahal AI-Quran akan tetap sampai hari kiamat dan Muhammad saw. adalah penutup para nabi dan rasul.

Bukanlah Muhammad itu ayah seseorang di antara lelaki kalian, melainkan ia rasulullah dan penutup para nabi. (Al-Ahzab: 40)

Dengan demikian, maka Al-Quran wajib terjaga dari tahrif. Sekiranya kita asumsikan bahwa ayat yang menjanjikan akan menjaga Al-Quran, yaitu: "Sesungguhnya telah Kami turunkan AI-Quran dan sesungguhnya Kami akan menjaganya", tidak ada, maka akal sendiri akan menghukumi tentang wajibnya keterjagaan AI-Quran dari tahrif dan tabdil.

Ketiga, karena AI-Quran merupakan penutup kitab samawi, dan bahwa mukjizat para nabi terdahulu pun tetap dinukil, maka hal itu mengharuskan adanya mukjizat abadi yang membenarkan pengakuan penutup para nabi dan kebenaran para nabi dan risalah-­risalah samawi sebelumnya. Allah berfirman:

Dan kitab yang Kami wahyukan kepadamu ialah kitab yang benar, yang membenarkan apa yang (disebutkan di dalam kitab-kitab) sebelumnya; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Melihat hamba-hamba-Nya. (Fathir: 31)

Keempat, Allah SWT berjanji bahwa ayat-ayat-Nya tidak akan terputus, melainkan akan berlanjut. Allah berfirman:

Akan Kami tunjukkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami di sekitar jagat raya dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? (Fushshilat: 53)


No comments:

maula

maula
putranya ust.Endang